Beberapa Hal Ini Perlu Diketahui Sebelum Gunakan Jasa Broker Properti

0
Ilustrasi

KONSPRO – ANDA  punya masalah hukum di bidang properti? Kirimkan pertanyaan Anda di email konsumenpropertinews@gmail.com. Sertakan alamat, dan indentitas yang jelas, kami akan segera menjawab pertanyaan Anda.

Pertanyaan:

SAYA akan menjual cepat satu unit rumah, karena ingin menutup kredit bank yang akan jatuh tempo tiga bulan kemudian. Mengingat waktunya yang mendesak, banyak rekan saya menyarankan memakai jasa broker dan saya telah bertemu dengan salah satu agen/broker properti yang cukup terkenal.

Namun saya masih ragu karena perjanjian jasa broker cukup banyak isinya, dan saya tidak mengerti hukum. Ditambah lagi ada pengalaman salah satu keluarga yang pernah bermasalah dengan seseorang broker. Broker tersebut meminta komisi walaupun transaksi rumah tidak melalui dirinya.

Baca juga: Aturan Baru Berlaku, Rumah Mewah Kian Laris

Maka dari itu, sebelum menandatangani perjanjian untuk penggunaan jasa broker, yang katanya sudah standar, saya ingin menanyakan dua hal:

  1. Hal-hal apa saja yang perlu diperhatikan dalam perjanjian tersebut?
  2. Apakah perjanjian standar itu bisa di rumah?

Rina Siregar, Jakarta

Jawaban:

UNTUK jawaban pertama, Ibu Rina Siregar di Jakarta, benar adanya bahwa ada beberapa keuntungannya bila kita memakai jasa broker properti yang profeisional, diantaranya adalah:

  1. Anda tidak perlu disibukkan oleh tamu atau deringan telepon yang menanyakan penjualan properti. Ini berarti Anda bisa menghemat waktu.
  2. Broker properti yang profeisional mempunyai pemasaran yang cukup luas, berarti kemungkinan besar rumah itu dapat terjual dengan cepat.
  3. Anda juga bisa hemat biaya iklan, karena pihak merekalah yang membiayai iklan dan biaya operasional untuk penjualan tersebut.

Namun di antara keuntungan tersebut di atas, ada hal-hal yang perlu di cermati di dalam perjanjian memakai jasa broker properti, guna menghindari perselisihan di kemudian hari. Hal-hal yang harus diperhatikan tersebut antara lain:

  1. Dalam perjanjian yang dibuat, pastikan hak dan kewajiban broker Anda. Lazimnya, broker itu menangani semua iklan, kunjungan calon pembeli, negoisasi, termasuk segala biaya yang akan timbul dari proses pemasaran tersebut.
  2. Jangka waktu perjanjian lazimnya selama 3 bulan. Selama periode tersebut jika rumah terjual, maka adalah fair jika si broker mendapatkan komisinya, walaupun si penjual tidak melalui broker. Alasannya, karena mereka telah bekerja dan mengiklankan properti yang dijual.
  3. Setelah waktu perjanjian 3 bulan, maka Anda harus memperhatikan dan mengerti klausula ini, lazimnya menentukan bahwa walaupun setelah masa perjanjian berakhir, namun jika yang membeli itu adalah orang yang pernah diundang, maka broker tetap berhak atas komisinya. Identitas pembeli itu sendiri berdasarkan data yang ada di buku tamu, yang biasanya disediakan pada saat open house.
  4. Untuk penentuan harga jual memang tetap ada di tangan Anda. Jika ada perubahan harga penawaran harus dengan persetujuan Anda.
  5. Masing-masing pihak akan menanggung beban pajaknya, termasuk Pajak Penghasilan (PPh) dan komisi broker tersebut.
  6. Jangan memberikan legal document (sertipikat) asli, cukup foto copy yang diberi tanda silang di tengahnya.
  7. Contact person dari perusahaan jasa broker tersebut harus jelas.

Jika Anda masih ragu terhadap terhadap bahasa yang tertera di dalam perjanjian itu, Anda dapat mengkonsultasikan terlebih dahulu dengan konsultan hukum.

Jawaban pertanyaan kedua. Dalam konstruksi hukum perjanjian tidak dikenal perjanjian standar, karena azas suatu perjanjian adalah terbuka. Maksudnya para pihak bebas menentukan isi perjanjian, yang penting terdapat kesepakatan bersama, sepanjang memenuhi syarat sah suatu perjanjian sebagaimana diatur dalam Pasal 1320 KUH Perdata. Itu berarti Anda dapat mengusulkan atau mengoreksi isi perjanjian tersebut sebelum menandatanganinya. Demikian penjelasan singkat ini, semoga bermanfaat.

Tim Hukum KONSPRO