Bangunan Rumah Pojok Diburu

0

KonsPro (20/01) SURABAYA – DI beberapa perumahan kadang tersedia lahan kosong (kavling) di setiap pojok. Tidak mudah mendapatkan pembeli rumah pojok (hook) ini, karena harga yang lebih mahal akibat penambahan lahan. Namun pengembang punya cara untuk merangsang minat pembeli.

Dirut PT Graha Agung Kencana Nurhadi mengatakan, meski jumlahnya relatif sedikit, peminat rumah pojok atau sudut masih tetap ada. Mereka rata-rata pembeli yang menyukai sesuatu yang berbeda dibanding rumah lain.

 

“Pembeli yang demikian memang perlu treatment khusus dan berbeda dengan pembeli rumah standar. Karena banyak yang membedakan, mulai harga, desain, serta luas lahan,” kata Nurhadi, Rabu (19/1).

 

Diakuinya, luas lahan di lokasi pojok memang berbeda-beda di masing-masing perumahan, mulai tipe kecil, sedang, atau mewah. Namun rata-rata penambahan sekitar 20-25 persen dibanding luas lahan di rumah standar di sekelilingnya. Itu yang membuat harganya lebih mahal.

Menurut Nurhadi, tak semua pembeli rumah pojok memahami atau mengerti soal penataan bangunan, serta desain rumah pojok. Karena itu, pengembang perlu mengarahkan pembelinya, sehingga tidak membangun rumah yang serupa dengan rumah standar di sekelilingnya.

“Ini karena tanpa perancangan sejak awal sangat sulit bagi pembeli untuk menerapkan bangunan tambahan atau merenovasi sebagian rumah standarnya,” ujarnya.

Kalau dipaksakan, lanjut Nurhadi, kemungkinan harus merombak sebagian besar bangunan rumah, sehingga sia-sia saja jika dibangun rumah standar.

“Ada semacam kewajiban bagi pengembang untuk mengarahkan atau mengedukasi pembeli bahwa bangunan atau desain rumah pojok itu berbeda dengan yang standar,” ungkap pemilik beberapa proyek perumahan di Surabaya, Gresik, dan Sidoarjo ini.

Meski demikian, tak selamanya pengembang mendapatkan pembeli rumah pojok yang cepat atau bersamaan dengan penjualan rumah di suatu proyek perumahan.

“Kadang pembeli baru muncul ketika dalam satu blok sudah dihuni dalam beberapa tahun,” jelasnya.

Untuk yang satu ini, Nurhadi mengakui, pengembang bisa membangunnya terlebih dulu sesuai dengan rumah standar atau dibiarkan berupa lahan kosong atau kavling.

“Kalau sudah ada bangunan standar, tetap ada pendampingan dari pengembang terkait penambahan atau renovasi ruang. Karena yang tahu konsep pengembangan rumah standar adalah pengembang sendiri,” ujar Ketua Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (Apersi) Jatim ini.

Manager Griya Babatan Mukti Okky W Djajasaputra menambahkan, rumah pojok memang memiliki konsumen khusus. Namun jika pengembang tak bisa menyiasatinya dengan bangunan yang bernilai jual atau memiliki keunggulan tertentu, tak mudah untuk mendapatkan konsumen.

“Sekarang memang tidak boleh menjual kavling. Karena itu kita tetap membangun rumah di lokasi pojok, namun dengan desain khusus. Biasanya luas bangunannya maksimal 50 persen dari luas lahan,” sebut Okky.

Di tempatnya juga menjual beberapa unit rumah pojok, mulai tipe 45 hingga 95 dengan luas bangunan hingga 187 meter persegi.

“Kelebihannya, dengan tambahan lahan yang cukup luas, harganya cukup menarik karena konsumen bisa bebas mendesain lahan yang ada,” jelas Okky.

Lebih Utuh

Selain memiliki kelebihan luas tanah, dari sisi keindahan, rumah pojok terlihat lebih utuh dengan sirkulasi udara dan pencahayaan alami yang optimal.

Pengamat Arsitektur dan staf pengajar dari Laboratorium Perencanaan Kota Jurusan Teknik Arsitektur ITS Rabbani Kharismawan mengatakan, kelebihan rumah atau lahan pojok memiliki akses lebih dari satu.

“Ada dua sisi yang bisa dimanfaatkan. Kalau si penghuni suka berkreasi dalam desain rumah tentu menguntungkan. Terutama kavling pojok yang berada di kompleks perumahan atau cluster akan lebih bebas berkreasi dibandingkan yang hunian nonperumahan, karena ada regulasi yang mengaturnya,” kata Rabbani.

Kavling pojok ada ketentuan Garis Sempadan Bangunan (GSB) atau Garis Muka Rumah (GMR). GSB merujuk pada batas dinding terdepan rumah tinggal pada sebuah persil. GSB/GMR ini berhubungan pula dengan Garis Sempadan Jalan (GSJ), yaitu batas pekarangan terdepan atau batas terdepan pagar.

“Kalau memang ada kelebihan dana atau dana memadai, tak ada salahnya bila memburu rumah tinggal/kavling di pojok. Figur bangunan rumah pojok akan lebih kelihatan dibandingkan rumah yang di tengah. Aliran udara rumah tengah juga terkesan terblokir ketimbang rumah pojok,” ujar Rabbani.

Di lingkungan perumahan atau cluster, ukuran rumah-rumah tinggal pada setiap blok sama besarnya. Tapi rumah yang berada di atas tanah pojok lebih luas.

Ia memaparkan, GSB dan GSJ memungkinkan terciptanya lahan atau ruang terbuka antara dinding dan pagar rumah. Ruang terbuka ini tak boleh diisi bangunan masif.

“Jika dipakai teras, carport, atau dibangun gazebo dan ditanami bambu sebagai pelengkap desain taman samping rumah, boleh-boleh saja. Kelompok ini tak termasuk bangunan masif,” jelas dia. (Surya Online)