Ahli Perencanaan Kota: Pemerintah Bisa Regenerasi Kota Saat PSBB

0
Gedung Gedung di Jakarta

KONSPRO, JAKARTA – Perencana kota berharap agar kota-kota di Indonesia bisa lebih siap ketika menghadapi pandemi virus corona tahun ini. Waktu yang tepat untuk melakukan regenerasi kota adalah ketika masa pembatasan sosial berskala besar diberlakukan.

Ketua Majelis Kode Etik Ikatan Ahli Perencanaan Indonesia (IAP) Bernardus Djonoputro mengatakan bahwa ke depan, agar kota-kota di Indonesia lebih kuat, dari sisi perekonomian, dan menghadapi kondisi alam seperti wabah kali ini, harus bisa revitalisasi dan regenerasi, terutama di wilayah urban.

“Memang revitalisasi dan regenerasi ini makan biaya sangat tinggi, ini juga yang selama ini menjadi penghambat pemerintah daerah khususnya,” ungkapnya dalam webinar, Rabu (1/7/2020).

Baca juga : Adhi Commuter Perbanyak Hunian Berbasis TOD

Untuk melakukan perencanaan kota yang lebih kuat dan berkelanjutan ke depan, Bernardus mengungkapkan bahwa perencana kota perlu memperhatikan tiga hal, yaitu kepadatan kota, umur populasi, dan jarak kota ke bandar udara internasional.

“Jarak ke bandara ini sekarang jadi penting karena ini jadi pusat di mana virus ini mulai menyebar. Nah, ke depannya, apakah kota yang aman dan kuat harus dekat dengan bandara dan begitu terbuka pada dunia. Karena sekarang sebagian kota besar ingin jadi pintu gerbang dunia ke Indonesia,” katanya.

Menurutnya, hal-hal tersebut menjadi tantangan ke depan, bagi perencana kota dan juga bagi wali kota. Dengan adanya pandemi ini, menurutnya, memperjelas masalah-masalah yang sebelumnya tak terlihat sehingga konsep kota ke depan perlu diubah.

“Kita jadi disadarkan, apakah kota tempat kita tinggal masih layak urban concept-nya. Jadi, perencanaan nantinya tidak melulu soal pembangunan infrastruktur, tapi juga melihat dari sisi regulasi ataupun secara teknikal,” jelas Bernardus .

Adapuh, saat ini dengan beberapa daerah, seperti Jawa Barat yang masih menerapkan PSBB menjadi waktu yang baik bagi wali kota untuk menyicil regenerasi kota.

“Misalnya, jalan yang biasanya ramai, sekarang jadi sepi, bisa ditutup, untuk bangun fasilitas seperti jalur pejalan kaki yang lebih layak. Perlahan-lahan, untuk mendukung masyarakat yang lebih ramah lingkungan,” tambahnya.

Bisnis.com