Adhi Karya Raih Kontrak Rp 4,1 Triliun pada Semester I 2011

0
3
Ilustrasi: kontan.co.id

KonsPro (16/7) JAKARTA – PERUSAHAAN konstruksi PT Adhi Karya Tbk (ADHI) telah meneken kontrak senilai Rp 4,1 triliun pada Semester I 2011 atau setara dengan 32,8% dari target kontrak baru pada tahun ini  sebesar Rp 12,5 triliun. Kontrak baru tersebut berasal dari proyek engineering, procurement and construction pembangkit listrik, minyak dan gas, serta pembangunan gedung dan infrastruktur lainnya.

Kurnadi Gularso, Sekretaris Perusahaan Adhi Karya, menyatakan realisasi kontrak yang dicapai pada Semester I tahun ini naik 35% dibandingkan dengan nilai kontrak semester yang sama pada 2010 sebesar Rp8,1 triliun. Secara historis, perolehan target kontrak pada enam bulan pertama tiap tahun hanya sekitar 25%.

“Kami optimistis tahun ini Adhi Karya dapat mencetak nilai proyek sesuai target. Apalagi 86% paket tender yang akan dikerjakan merupakan proyek pemerintah dan badan usaha milik negara. Pada Semester II seluruh paket yang dilelang telah siap untuk diteken,” ungkapnya.

Kontrak baru yang diperoleh perusahaan antara Januari-Juni 2011 antara lain pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap Sintang berkapasitas 3×7 megawatt senilai Rp 357 miliar, Pembangkit Listrik Tenaga Uap Tembilahan dengan kapasitas 2×7 megawatt senilai Rp 277 miliar dan Pembangkit Listrik Tenaga Uap Tanjung Selor berkapasitas 2×7 megawatt senilai Rp 268 miliar.

Proyek lainnya adalah pembangunan Ciliwung-Cisadane dengan nilai kontrak Rp 230 miliar, menara The Convergence Indonesia senilai Rp 185 miliar, pelebaran jalan tol Kebon Jeruk-Tangerang Barat Rp 131 miliar, pembangunan RSUD Kendari Rp 85 miliar, dan superblok di Cirebon Rp 77 miliar.

“Untuk proyek Central Processing Plant Area Gundih senilai US$ 131 juta, porsi Adhi Karya sebesar 50% dari kontrak tersebut,” jelas Kurnadi.

Pendapatan Adhi Karya pada 2010 turun sebesar 26% dari Rp 7,71 triliun menjadi Rp 5,67 triliun. Kontributor utama pendapatan masih berasal dari jasa konstruksi yang pada tahun lalu pendapatannya mencapai Rp 4,25 triliun atau sebesar 75% dari total pendapatan. Laba bersih naik sebesar 15% dari Rp 166 miliar menjadi Rp 189 miliar. Laba bersih 2010 tersebut mencerminkan laba bersih per saham (EPS) sebesar Rp 107,83.

Peringkat Obligasi

Adhi Karya meraih peringkat obligasi “idA-” dan sukuk mudharabah I 2007 pada level “idA-(sy)” dengan outlook stabil dari PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo). Peringkat ini mencerminkan kuatnya penguasaan pasar Adhi Karya dalam bisnis kontruksi domestik, keuntungan sebagai sebuah perusahaan yang dimiliki pemerintah, dan tingkat keuntungan yang moderat.

Namun, Pefindo mencatat peringkat ini dihadapkan terhadap besarnya keperluan pendanaan untuk modal kerja, risiko yang berkaitan dengan bisnis engineering, procurement, and construction dan volatilitas bisnis industri konstruksi.

Hingga akhir Maret 2011, pemerintah Indonesia mengendalikan 52,28% saham Adhi Karya, publik (42,32%), ABN Amro Bank NV (5.12%) dan manajmen atau direktur perseroan sebanyak 0,28%.

Pada penutupan perdagangan Kamis, harga saham Adhi Karya turun Rp 10 menjadi Rp 740 dari posisi penutupan sehari sebelumnya. (Indo.FinanceToday)