2011 Pengembang Asing Ramaikan Bisnis Properti

0

KonsPro (27/01) JAKARTA – Besarnya potensi pasar properti di Indonesia membuat investor (pengembang) manca negara ancang-ancang melakukan ekspansi ke Indonesia. Di samping kondisi ekonomi politik dan keamanan yang relatif stabil di 2010, masih rendah harga properti dibanding di negara-negara lain sepantaran Indonesia (Malyasia dan Singapura) menjadi faktor besarnya minat pengembang asing mengembang usahanya di Indonesia.

Melihat kenyataan ini, Todd Lauchlan, Country Head Jones Lang LaSalle memperkirakan aktivitas bisnis properti  di Indonesia, khususnya  di Jakarta di tahun 2011 akan diramaikan oleh pemain-pemain (pengembang) asing yang berinvestasi   jangka pendek hingga  jangka panjang.

Menurut  Lauchlan, tingginya minat investor asing untuk mengembangkan proyek  di Indonesia sebenarnya  sudah terlihat sejak tahun lalu. Para investor asing tersebut secara terencana  melakukan riset potensi pasar dan penjajakan pengembangan binis properti lewat joint venture  di Indonesia.

“Sejumlah pengembang dari negara Asia seperti Singapura, Korea, Hongkong, dan Jepang sedang melakukan studi untuk pengembangan proyek baru, khususnya dengan cara bermitra dengan investor lokal. Sub sektor properti favorit para pengembang asing antara lain:  pasar perkantoran komersial, pusat belanja, dan apartemen sewa, yang memang potensinya masih terbuka lebar,” ujarnya, kemarin.

Lauchlan menambahkan, Indonesia menjadi pilihan karena pertumbuhan ekonominya terus membaik dan stabilitas politiknya terjaga. Ditambah lagi sumber daya alam dan sumber daya manusia yang berlimpah, sehingga investor makin tertarik.

“Kategori investasi yang dilakukan oleh negara-negara asing tersebut terbagi menjadi tiga kategori, pertama investasi yang dilakukan dalam jangka waktu 3 tahun hingga 5 tahun, kedua investasi yang mencapai sepuluh tahun, dan yang terakhir investasi dengan jangka waktu lebih dari 10 tahun,” jelasnya.

Sementara itu, pada kesempatan yang sama  Anton Sitorus, Head of Research Jones Lang LaSalle Indonesia menyatakan, wilayah primadona tidak sebatas Jakarta, namun daerah-daerah  lain akan juga akan menjadi incaran pengembang asing, terutama di daerah-daerah yang  sektor manufacturing dan logistiknya berkembang pesat. Potensi pasar ini tidak lepas dari beberapa faktor, salah satunya adalah ekonomi Cina, yang tumbuh 10 persen tahun lalu, dikhawatirkan memicu gelembung ekonomi. Para investor akhirnya beralih ke ASEAN, termasuk Indonesia. (Erlan Kallo, [email protected])